Selasa

Berjualan Sejak Zaman Penjajahan Jepang

http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s720x720/296821_2006226406455_1567514402_31738089_150754177_n.jpgLotis Pak Karso, Langganan Keluarga Pak Harto

TAK seperti halnya rujak - atau di Solo disebut lotis - yang kini banyak dijual secara kelilingan dengan gerobag, warung Lotis Pak Karso Penumping, Kecamatan Laweyan, Solo tetap setia mangkal berada di tempatnya.

Di pinggir Jl Samanhudi atau tepatnya sebelah barat daya Stadion Sriwedari tersebut sepasang angkringan dipajang, lengkap dengan dagangan buah-buahan segar yang siap dipotong atau diparut. "Nanti malah pelanggan kebingungan mencari lotis kami. Lagi pula angkringan ini sudah mangkal di sini sejak tahun 1966," jelas Kirno (50) penjual rujak.

Kirno, merupakan anak Karso, generasi pertama penjual lotis. Karso selaku generasi pertama kini hanya sesekali datang ke warungnya. "Bapak sudah tua, usianya sudah 90 tahunan. Jadi saya diminta meneruskan usahanya di sini."

Selain rujak potong atau di Solo biasa disebut lotis, dia juga melayani rujak parut. Satu porsi masing-masing seharga Rp 8 ribu. Tak seperti lotis yang dijual pedagang kebanyakan, potongan buah disajikan dengan ukuran agak besar. "Buah yang kami sajikan di sini adalah buah pilihan. Isinya juga komplit, ada juga potongan ubi ketelanya," jelasnya.

Sambal rujaknya yang mantap dan pas pedasnya, membuat lotis Pak Karso digemari pelanggan. Dalam sehari, tak kurang dari 100 porsi laku dijual. "Bumbu sambalnya juga biasa, sama seperti lotis kebanyakan. Hanya saja mungkin lebih kental, jadi banyak yang suka datang ke sini."

Kampung ke Kampung

Awalnya, lotis Pak Karso dijual secara keliling sejak tahun 1940-an atau sewaktu zaman penjajahan Jepang. Cara menjajakannya masih berkeliling dari kampung ke kampung. Lantaran pelanggan sudah cukup banyak, mulai tahun 1966 Karso memutuskan untuk membuka lapak di Jl Samanhudi, Penumping.

"Sampai sekarang ini sudah menetap di sini. Kalau kini terjadi penurunan jumlah pembeli, bagi kami tidak masalah. Toh rezeki sudah ada yang mengatur," ujarnya.

Di antara pelanggan setianya, keluarga Soeharto, presiden kedua RI merupakan salah satunya. ''Sejak zaman Bu Tien Soeharto masih hidup, kalau pulang ke Solo selalu memesan lotis kami. Bu Tien selalu utusan ke sini khusus untuk membeli lotis kami.''

Bahkan tak jarang ketika keluarga besar sedang berkumpul, Karso beserta angkringannya dibawa ke Kalitan. ''Bahkan saat peringatan seribu hari Pak Harto belum lama ini, angkringan saya juga dipesan khusus ke sana. Masih sama meski Pak Harto dan Bu Tien sudah meninggal. Ternyata anak cucunya banyak yang suka lotis dagangan kami.''


EmoticonEmoticon