Jumat

27 Jamaah Meninggal, 42 Sakit

Madinah  - Calon jamaah haji (calhaj) Indonesia yang telah tiba di Arab Saudi saat ini mencapai 119.055 orang dari 293 kloter. Adapun sampai saat ini, jamaah yang meninggal sebanyak 27 orang. Sedangkan jamaah yang sakit sebanyak 42 orang.

Kementerian Agama Republik Indonesia melansir, mayoritas jamaah saat ini berada di Makkah. Sedangkan kedatangan jamaah ke Madinah telah berakhir hari ini dengan mendaratnya kloter 50 SUB pada pukul 02.50 WAS di Bandara Madinah. Kloter ini berisi 450 orang.

Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, Akhmad Jauhari, menuturkan, kedatangan jamaah ke Madinah yang masuk kategori gelombang I, telah berakhir dengan mendaratnya kloter 50 SUB tersebut.

"Kita tinggal dorong jamaah ke Makkah yang berakhir 28 Oktober," ujarnya saat membuka sosialisasi operasi Arafah, Muzdalifah, Mina (Armina) di kantor Daker Madinah, Rabu malam WAS atau Kamis (20/10/2011) WIB.

Jamaah yang masih berada di Madinah akan menunaikan salat arbain 40 waktu di Masjid Nabawi dan berziarah di tempat-tempat bersejarah Islam, selama 8-9 hari.

Sementara itu, jumlah jamaah yang meninggal dunia di Saudi menurut data Siskohat Kesehatan per hari ini ada 27 orang.

Di antara mereka, terdapat dua jamaah yang meninggal pada Rabu 19 Oktober. Pertama, Asmani (70), asal kloter 39 SUB, meninggal pukul 06.30 WAS di pondokan di Madinah. Penyebab kematian adalah gangguan pernafasan. Isrokim (42) meninggal di BPHI Makkah. Jamaah asal Kendal ini juga meninggal akibat gangguan pernafasan.

Adapun jamaah yang sakit sebanyak 42 orang. Mereka menjalani perawatan di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Makkah. "Kami melayani bimbingan ibadan mereka yang selama dirawat di BPIH. Jumlahnya memang cenderung bertambah terus setiap hari. Ini seiring dengan banyaknya jamaah yang tiba di Makkah, baik dari Jeddah maupun Madinah," kata Kata Pelayanan Bimbingan Haji,Syahlan Arif Ibrahim, di Makkah.

Menurut Syahlan, tugas para pembimbing haji memang akan semakin sibuk bila jamaah yang mendapatkan perawatan semakin banyak. Ini karena para petugas bimbingan harus menemui satu persatu jamaah untuk memastikan mengenai pelaksanaan ibadah mereka selama di rawat di BPHI Makkah.

"Ya istilahnya kami juga memberikan bimbingan psikologis misalnya meminta jamaah sabar. Selain itu kami juga memastikan mengenai kegiatan ibadah misalnya memperingatkan agar tak lupa shalat atau juga menanyakan mengenai posisi ibadah umrah mereka," kata Syahlan.

Yang paling membuat prihatin, lanjut Syahlan, kadang ketika ditanya soal pelaksanaan ibadahnya, jamaah yang sakit ada saja yang menyepelekan. "Malah saya lihat ada beberapa yang stres. Ketika ditanya soal shalat dia jawab sudah pernah. Dan ketika ditanya apakah sudah melaksanakan umrah, dia menjawab sudah ketika di tanah air."

"Seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya, puncak dari jumlah jamaah yang dirawat di BPHI ketika semua jamaah haji sudah berada di Makkah. Dan kami makin sibuk ketika harus mulai mempersiapkan jamaah yang sakit yang hendak di safari wukufkan," ujar Syahlan.

Menurut Syahlan, patut dipahami para jamaah bahwa wukf adalah syarat syahnya ibadah haji. Dengan demikian meskipun dalam kondisi sakit jamaah harus dibawa ke Arafaf meski hanya beberapa waktu saja. "Jamaah yang sakit akan dibawa ke Arafah pada sore hari ketika wukuf. Waktunya berbeda dengan jamaah haji biasa. Jadi tak lama. Itu pun hanya dilewatkan saja di Arafah menjelang Maghrib sampai menjelang Ishya. Setelah itu pulang kembali ke BPHI," katanya.

Ditegaskan Syahlan, wukuf di Arafah adalah syarat mutlak berhaji. Dan bila pada beberapa tahun lalu ada jamaah yang di rawat di BPHI tertinggal melakukan wukuf, maka pada musim haji berikutnya dihajikan kembali. "Sedangkan soal tawaf ifadah atau melempar jumrah bisa di-badalkan diwakilkan)," tandasnya.seperti yang diasir di beritajatim.com


EmoticonEmoticon